Home » Berita » Hadirkan Prof. Mohd. Shahid Mohd Noh, Pascasarjana UIN RIL Perkuat Relevansi Lulusan Lewat Kurikulum OBE

Hadirkan Prof. Mohd. Shahid Mohd Noh, Pascasarjana UIN RIL Perkuat Relevansi Lulusan Lewat Kurikulum OBE


Bandar Lampung, 8 Mei 2026 Program Studi Pendidikan Agama  Islam UIN Raden Intan Lampung ketua Program Studi  Ibu Dr. Chairul Amriyah,M.Pd dan Sekretaris Program Studi Dr. Sunarto, M.Pd.I menggelar kegiatan Review Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) dengan menghadirkan Prof. Mohd. Shahid Mohd Noh dari Universiti Malaya, Malaysia. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 8 Mei 2026 ini menjadi langkah strategis prodi dalam menyelaraskan kurikulum dengan standar internasional dan kebutuhan pengguna lulusan

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung Bapak Prof. Dr. Tulus Suryanto, SE., MM., Akt., CA di Aula Pertemuan Lt. 2. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa transformasi kurikulum menuju OBE bukan sekadar tuntutan akreditasi, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga relevansi keilmuan. “Lulusan Pendidikan Agama Islam harus mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, capaian pembelajaran harus terukur, kontekstual, dan berdampak,” ujarnya.
Prof. Mohd. Shahid Mohd Noh, yang juga pakar pengembangan kurikulum dan jaminan mutu di Universiti Malaya, memaparkan filosofi dasar OBE. Menurutnya, OBE membalik paradigma lama. Jika dulu pembelajaran berangkat dari apa yang ingin diajarkan dosen, maka OBE berangkat dari profil lulusan yang ingin dihasilkan. “Pertanyaannya bukan apa yang saya ajarkan, tetapi apa yang mahasiswa mampu lakukan setelah lulus” tegasnya di hadapan dosen, tim penjamin mutu, dan perwakilan mahasiswa.

Dalam sesi review, Prof. Shahid menelaah dokumen kurikulum Prodi Pendidikan Agama  Islam secara detail. Beberapa catatan penting yang ia sampaikan antara lain penguatan Program Learning Outcomes agar lebih spesifik dan terukur, penataan peta kurikulum yang menunjukkan keterkaitan antar mata kuliah, serta integrasi assessment yang otentik. Ia mencontohkan, mata kuliah Filsafat Islam Kontemporer tidak cukup dinilai lewat ujian tulis. “Bisa ditambah proyek analisis isu aktual, debat akademik, atau publikasi populer. Di situlah OBE bekerja,” jelasnya. Diskusi berlangsung interaktif. Para dosen menyampaikan tantangan implementasi OBE, mulai dari beban kerja dosen, penyesuaian RPS, hingga instrumen penilaian. Menanggapi hal itu, Prof. Shahid menekankan pentingnya constructive alignment antara CPL, CPMK, metode, dan asesmen. Ia juga membagikan praktik baik dari Universiti Malaya, seperti sistem student portfolio, rubrik terstandar, dan pelibatan stakeholder dalam merumuskan profil lulusan.  Ketua Prodi Studi Pendidikan Agama Islam Ibu Dr.Chairul Amriyah, M.Pd menyatakan bahwa masukan Prof. Shahid akan menjadi dasar revisi kurikulum 2026. “Kami menargetkan kurikulum OBE  bisa menjawab perkembangan jaman yang semakin kompleks ungkapnya.